Dahsyatkan Dirimu dengan Menulis

20 Maret 2009

Menjadikan Diri Kaya dengan Menulis

Filed under: Spirit Writing — Joni Lis Efendi @ 08:32

oleh: Nurrahman Efendi

Siapa saja memiliki peluang yang sama besarnya dengan J.K. Rowling, Stephen King, John Grisham, Habiburrahman El Shirazy, Asma Nadia, Budi Dharma, Seno Gumira Ajidarma, Andrea Hirata, Afifah Afra, dan sebagainya, untuk jadi penulis hebat. Anda tidak butuh rumus nyelimet, teori kusut-masai, harus jadi pengelana bertahun-tahun untuk mendapatkan segudang pengalaman, kalau hanya ingin menulis sebuah karya yang dapat menitikkan air mata pembaca. Karena semua itu sudah ada dalam diri Anda (pikiran dan hati), sesuatu yang teramat dekat bukan?
Sebagian besar dari mereka yang terobsesi untuk jadi penulis nomor wahid se-Indonesia, selama ini salah memposisikan diri dalam melihat hal ini. Sehingga dia tidak dapat melihat kemudahan di jalan ini (jadi penulis), melainkan kesukaran yang bikin jongkok nyali.
Ketika hendak menulis, tiba-tiba datang menyergap seekor “gajah gemuk” masalah, dan “tembok cina” kendala, dan rasa-rasanya seperti mimpi di siang bolong (plus bulan puasa lagi) untuk jadi penulis hebat. Tak ubahnya bagai pungguk sekarat merindukan bulan.
Saya ingin beri tahu Anda, setiap penulis memiliki hak ekslusif (sekelamin dengan hak veto gitu). Setiap penulis leluasa membuat dunia sendiri dalam tulisannya dan menghidupkan tokoh-tokoh ceritanya. Di antara Anda, mungkin sudah ada yang basah kuyup di dunia Harry Potter yang diciptakan J.K. Rowling, terhipnotis dengan eksotiknya kota Kairo dalam novel Ayat Ayat Cinta, tertawa dan sesekali menangis ketika bertandang ke bumi Laskar Pelangi?
Kesan mendalam yang Anda jumpai ketika membaca realita kehidupan fiksional dan tenggelam dalam dunia rekaan penulisnya, sebenarnya Anda tengah mendatangi sebuah “keajaiban” imajinasi yang dijelmakan oleh penulisnya.
Seorang pembaca terkadang dia tidak bisa membedakan antara dunia realita dengan pesona alam fiksi yang diselaminya dalam halaman-halaman sebuah novel. Saking asyiknya, mereka mengira bahwa semua itu adalah benar, sesuatu yang nyata, tampak, berasa, dan bisa dijamah. Padahal tidak, itu hanya sebuah imajinasi yang dipukau dengan realita fiksi yang diadon amat manis oleh penulis.
Dan, Anda pun bisa membuat sebuah dunia imajinasi seenak “donat” seyami “es krim” yang tak kalah mempesona dengan karya penulis idola Anda itu.
Atau, Anda bisa setajir Andrea Hirata (yang abakradabra jadi miliuner setelah menyulap Belitong tempoe doeloe dalam Laskar Pelangi), atau seperti Kang Abik (katanya rekening, veteran FLP Mesir ini, sudah lewat angka 8 M dari royalti Ayat Ayat Cinta dan beberapa novelnya yang lain), atau ingin seperti IRT keren plus banyak pulus seperti Asma Nadia, Afifra Afra, dan Sinta Yudisia karena keranjingan nulis novel dan buku.
Sepertinya, Anda bisa menjadi seperti apapun yang Anda mau. Dan saya tidak akan banyak komentar apalagi ngomel (karena iri), melihat Anda sudah jadi Kabar (orang kaya baru) lantaran novel atau buku Anda dipelototi ratusan ribu pasang mata se-Indonesia-ku.
Kaya jadi penulis? Apa iya?
Ya, iyalah!
Kaya, defenisinya itu banyak banget, bisa jadi 1001 arti. Kita ambil empat saja di antaranya yang ada nyerempet-nyerempet dengan dunia penulis.

1. Kaya Materi
So, pasti ini banyak diburu orang. Kaya, siapa yang nggak mau?
Penulis saat ini merupakan profesi yang lagi tren (in) di tanah air. Penyebabnya sudah dapat ditebak, banyak yang jadi jutawan lantaran menulis novel atau buku. Banyak juga penulis koran dan majalah (berupa opini, esai, cerpen, cerbung, puisi, dan lain-lain) mendapatkan honor jutaan rupiah per bulan. Belum lagi ada orang yang jadi jutawan mendadak karena menang lomba penulisan, yang hadiahnya sampai puluhan juta. Uih, keren plus berpulus-pulus tuh.
Sepertinya tidak susah-susah betul jadi penulis. Seperti penulis kolom di koran-koran top ibukota seperti Kompas, Tempo, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia, Media Bisnis, dan lain-lain, yang menghargai satu opini (cuma 6 halaman kuarto spasi 2 yang cukup satu jam jadi) ratusan ribu bahkan sampai 1,5 juta rupiah (bahkan lebih). Kalau ada empat kali saja dimuat dalam satu bulan (misalkan satu opini 500 ribu rupiah), pendapatan bersihnya 2 juta rupiah, coy!
Keren kan?!
Atau, seperti Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) yang menulis sebulan novel Ayat Ayat Cinta, ketika novel, yang sudah mejeng di layar lebar ini, meledak di pasar, Kang Abik banjir duit. Lebih heboh lagi, Andrea Hirata, yang melahap Laskar Pelangi dengan jentikan jari-jarinya selama tiga minggu, juga jadi miliuner dan pernah dibayar 50 juta hanya untuk bicara 2 jam plus tanda tangan buku.
Sepertinya yahut banget cari duit dari menulis buku dan novel.
Jangan kaget, kalau ada penulis yang bergaji puluhan juta per bulan dari royalti buku-bukunya. Mereka itu cukup menulis buku, kasi ke penerbit, dicetak dan setiap enam bulan sekali disetor royalti puluhan juta bahkan sampai ratusan ke rekening mereka. Sekedar menyebutkan saja beberapa nama, seperti Salim A. Fillah, M. Fauzil Adhim, Asma Nadia, Afifra Afra, Gola Gong, Andre Wongso, Taufikurrahman, dll.
Untuk level dunia, mungkin J.K. Rowling adalah penulis tersukses dalam mengumpulkan duit. Bahkan kekayaan penulis Hary Potter ini lebih dari 1 miliar dolar, lebih kaya dari Ratu Elizabet. Dan puluhan penulis beken dunia lainnya yang jadi jutawan dolar karena bukunya laku jutaan eksemplar di seluruh dunia.
Jangan terpukau dulu, itu cerita bagi mereka yang sudah punya nama beken dan penghasil novel dan buku adiluhung. Sedangkan bagi Anda yang baru ingin terjun ke lembah makmur dunia kepenulisan, harus siapkan parasut pengaman agar tidak mati konyol. Nah, nanti saya akan kasih trik dan intrik agar bisa jadi penulis sesewahid-wahidnya di tanah air. Berdoalah, agar Anda penulis yang saya maksudkan itu. (Jangan lupa berjuang untuk menjadi penulis hebat, malah ini yang harus nomorsatukan terlebih dahulu.)

2. Kaya Ilmu
Jelas dunk! Dengan menulis kita akan jadi tambah kaya dengan ilmu pengetahuan. Setiap penulis di-WAJIB-kan jadi buku maniak (penggila buku nomor satu sedunia, kapan perlu). Jangan bangga dulu kalau Anda selama ini sudah dicap kutu buku, kutu buku belum begitu tokcer untuk jadi penulis. Harus penggila buku, baru maknyosss!
Karena sangat tidak manusia bin mustahil bin imposibel jadi penulis hebat yang tulisannya segurih pizza, selezat ayam goreng Wong Solo dan selezat nasi kapau kalau kepalanya cuma tong kosong bocor lagi.
Penulis hebat dia harus banyak baca, harus lebih dari kutu buku paling kutu buku agar dia punya banyak bahan untuk ditulisnya, lebih banyak tahu dari orang lain sehingga tulisannya bernas (padat berisi), dan ketika orang membacanya terkagun-kagum.
Inilah yang bikin seru jadi penulis. Lebih hebat dari kebanyakan orang. Lebih ahli di bidangnya, lebih dipercaya sebagai kaum intelek, lebih dimuliakan dari orang-orang biasa, namanya tetap hidup dikenang, dan ilmunya berbuah manis sepanjang usia dunia karena karya-karyanya terus dibaca dan ditelaah manusia sepanjang masa.
Jangan salah, karena orang-orang sudah mencap penulis hebat, maka dia lebih berhak untuk duduk di kursi-kursi kehormatan dalam seminar-seminar nasional bahkan internasional, berbicara di podium-podium keharuman yang disaksikan para punggawa dan dedengkotnya ilmu pengetahuan dan sains (profesor, doktor dan master).
Isi pembicaraannya diikuti orang dan dijadikan sumber rujukan, karena dia orang yang berilmu dan mumpuni, dan karena dia adalah penulis hebat.

3. Kaya Batin
Kepuasan batin, siapa saja pasti ingin mencicipinya, mengunyahkan lalu menelannya. Bagi seorang penulis, tidak ada yang lebih berharga dan tak tertandingi nilainya ketika karya-karyanya dibaca sekian banyak orang, memberikan pencerahan kepada begitu banyak kegelapan dalam kepala manusia, dan mengubah tatanan kehidupan manusia dan peradaban di bawah kolong langit. Semua kepuasan itu tidak dapat digantikan oleh apapun, termasuk bertumpuk-tumpuk rupiah. Inilah esensi idealisme seorang penulis.
Idealisme seorang penulis adalah standar moral yang telah berlaku universal dalam dada setiap penulis manapun di planet bumi ini, walau bajunya berwarna-warna, dan kulitnya juga berbeda-beda. Ketika seorang penulis menghianati idealismenya, saat itulah dia telah kehilangan dirinya dan larut dalam halusinasi kefanaan dan kesementaraan yang cepat habis.
Jujur saya katakan, materi, harta, penghormatan dan pengakuan yang terlalu berlebihan dan meluap-luap kepada seorang penulis, sungguh itu adalah air tsunami zaman Nabi Nuh, yang akan meluluhlantakkan idealismenya.
Seorang penulis top, yang diikuti dan dijadikan idola banyak orang, adalah mereka yang mampu menjaga idealismenya. Karena itulah, kepuasan batin tidak bisa digantikan dengan apapun bagi seorang penulis.

4. Kaya Fens
Penulis sama seperti selebritis. Jadi bahan berita di mana-mana. Kehadirannya dinantikan ribuan orang. Orang rela antri berjam-jamnya hanya untuk mendapatkan tanda tangan penulis idolanya. Bahkan, ada penulis yang diuber-uber seperti maling jemuran oleh para fensnya. Terpaksa panitia ambil jalan belakang. Atau, menculik penulis tersebut dari kerumunan fens. Kalau tidak, penulis itu bakal mati lemas kekurangan oksigen.

Waduh, tambah semangat aja niat hati pengen jadi penulis. Tapi, apa gak terlalu sulit jadi penulis? Pengalaman yang sudah-sudah, untuk nulis satu halaman saja malasnya minta ampun apalagi yang sampai ratusan halaman. Kayak angkat gunung aja?
Cara berbikir kitalah yang salah selama ini melihat seperti apa profesi seorang penulis. Atau, kita terlalu kecil hati melihat diri sendiri dan selalu membawa kemana-mana sebuah keyakinan yang keliru, “Bahwa aku tidak mungkin bisa jadi penulis hebat, jangan mimpi!”
Inilah kesalahan itu. Putuskan belenggunya, runtuhkan tembok penghalangnya, mulailah untuk mempercayai diri sendiri bahwa Anda bisa menjadi seorang penulis.
Sebelumnya, Anda harus mampu mengenali seperti apa rantai yang membelenggu tangan Anda sehingga tidak berdaya untuk mengangkat pena atau menekan tuts keyboard, dan tembok besar yang memagari pikiran yang menghalangi Anda melihat ke dalam diri sendiri sehingga seakan-akan tidak ada sesuatu pun yang layak untuk Anda tulis. Padahal tidak demikian adanya. Semua itu hanya igauan sejenis halusinasi “omong kosong”. Anda memiliki segalanya. Andalah penulis hebat itu.
Tahukah Anda, bahwa belenggu dan tembok besar itu, justru Anda sendiri yang menciptakannya. Sungguh aneh bukan?
Setelah mengetahui apa yang menjadi penyebabnya, maukah Anda meruntuhkan tembok itu? Kalau jawaban Anda “tidak yakin” dan masih ragu-ragu, saya sarankan Anda tidak usah membaca sampai titik terakhir kalimat ini (cukup berhenti sampai di sini).
Jika Anda orang yang akan dirudung perasaan bersalah kalau tidak sampai menyudahi artikel ini, Andalah orang yang saya maksudkan itu (penulis dan calon penulis yang sesungguhnya).

Hancurkan Belenggu ini, SEGERA!
 Katakan, SELALU ADA IDE! (tamatlah riwayat “tidak ada ide”)
 Berteriaklah, SAYA BISA MENULISNYA! (pupuslah lesuhnya gairah menulis)
 Berteriaklah, INI MUDAH! INI MUDAH! INI MUDAH! (menguaplah sesuatu yang mengganjal pikiran Anda)
 Berteriaklah, SAYA PENULIS HEBAT! (maka akan muncul kepercayaan diri Anda, sesuatu yang sangat membantu)
 Katakan dengan lantang, INI SAATNYA MENULIS! (tenggelamlah kemalasan tangan, hati Anda kian teguh, dan mata Anda berbinar-binar mendapati sebuah dunia yang nyata dalam imajinasi Anda)
 Katakan dengan lantang, INI SAATNYA SAYA JADI PENULIS! (seketika itu juga Anda telah menjadi seorang penulis, selamat! (jangan lupa hadiahkan satu karya Anda kepada saya, jangan lupa ya!)

Saatnya untuk membuktikan diri, bahwa Andalah penulis hebat itu!!!

Sekelumit Tentang Penulis

Nama Lengkap : Joni Lis Efendi
Nama Pena : Nurrahman Effendi
TTL : Kenagarian Kambang (Sumbar), 08 Juni 1982
Tulisan :  Buku “Quantum Sedekah, Trik Jitu Melejitkan Kekayaan dan Spiritual” (Grafindo, 2008)
 Buku “The Power of Wisdom Kiktab Hikmah Buah Keimanan” (Grafindo, 2008)
 Buku “Dirimu Harta Karun yang Tak Ternilai” (Media Qalbu, 2004)
 Buku “Menggapai Impian” (Media Qalbu, 2006)
 Buku “Making Dream Team” (Pustaka Ulumuddin, 2006)
 Buku “Menajadi Remaja Paling Bahagia Sedunia” (Rosalba Press, 2006)
 Buku “Krisis Sastra Riau, Kumpulan Esai Pilihan Riau Pos 2007” (Yayasan Sagang, 2007)
 Antologi “Pipa Air Mata Kumpulan Cerpen Pilihan Riau Pos 2008” (Yayasan Sagang, 2008)
 Antologi “Jalan Pulang Kumpulan Cerpen Pilihan Riau Pos 2006” (Yayasan Sagang, 2006)
 Novel: “Pesan Cinta dari Surga” (proses terbit Diva Press)
 Puluhan tulisan lepasnya tersebar di Harian Pagi Riau Pos, Riau Mandiri, Riau Tribune, Republika, Majalah Budaya Sagang, Haluan Padang, Majalah Sabili, Majalah Ummi, SKK Bahana Unri dan Buletin Estuaria
 Memenangkan lomba kepenulisan (fiksi dan nonfiksi) baik tingkat lokal maupun nasional antara lain: Juara III Honda Writing Competition 2008, Nominasi Sayembara Wiranto Mendengar Aspirasi Rakyat 2008, Juara III Lomba Cerpen Islami Majalah Ummi 2007, Juara I Lomba Karya Tulis HUT Korpri Riau 2007, Juara I Lomba Karya Tulis HUT Emas Riau 2007, Juara II Lomba Karya Tulis Harian Riau Mandiri 2007, Juara I Lomba Karya Tulis Mapala UIN Suska 2007, Juara Harapan Lomba Cerpen DKR 2007, Juara I Lomba Cerpen Mahasiswa se-Riau 2006, Juara II Lomba Karya Tulis Perhumas Riau 2005, dsb
Motto : STQ (Sabar, Tawadu’, Qana’ah)
Hobi : Menulis, membaca, jalan kaki
Nomor HP : 085271832738
Email : efendi_jonilis@yahoo.com dan bang_pendi@yahoo.co.id
Web : http://www.penulishati.blogspot.com
Alamat Surat : Pondokan Alfitra, Jl. Merak Sakti, Simpangbaru, Panam

 Aktif menulis sejak SMP
 Alumni ESQ Angkatan 9 Mahasiswa Pekanbaru
 Ketua FLP Riau 2005-2007
 Ketua FLP Jaringan Wilayah Sumatera 2006-2009
 Ketua Kajian Lingkar Perubahan
 Mengisi pelatihan penulisan di beberapa daerah

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: