Dahsyatkan Dirimu dengan Menulis

11 April 2009

Saat Siska Pergi

Filed under: Cerpen — Joni Lis Efendi @ 04:22

intan

Cerpen: Intan Amlan (Ruwaida Muthia)

Pagi hari pukul delapan lewat lima belas menit, Bu Ratna tidak masuk hari ini, Siska berencana akan sarapan ke kantin seperti biasanya, memesan lontong sayur Bu De yang sangat lezat di tenggorokan. Saat tiba-tiba Rita mendekatinya,

“Sis, kau punya uang dua ratus ribu?”

”Buat apa, Ta?” entah mengapa pertanyaan itu keluar dari mulut Siska, kebetulan tadi malam abangnya yang baru bekerja memberikan bonus karena menerima gaji pertama. Dan sekarang, ia hanya memastikan kalau uang yang akan diberikannya dipergunakan untuk hal yang baik.

Aku harus membayar biaya rumah sakit Ayu, adikku yang check up di RSUD tadi pagi, seharusnya ia memeriksa bekas kecelakaannya dua bulan yang lalu, tapi ia baru sempat memeriksanya tadi hari ini, itupun setelah kulihat ia menahan sakit di tangannya dan aku memaksanya untuk check up pagi ini juga walau bagaimanapun. Ibuku belum sempat memberikan kiriman buat kami.”

”Ada nih,” kukeluarkan uang dua ratus ribu seperti yang dimintanya dan langsung memberikannya.

”Akan kuganti setelah ibu memberikan kiriman tambahan,” katanya dengan malu-malu.

Siska memutar badannya ke arah taman kampus, habis sudah uangnya, untunglah kosnya sangat dekat dengan kampus FKIP sehingga ia tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos, cukup berjalan kaki sepuluh menit saja. Namun ia harus makan nasi putih saja karena persediaan lauknya telah habis beberapa hari yang lalu. Bukan masalah bagi Siska karena ia bisa berkunjung ke kos temannya dan makan di sana.
***
22 September 1998, dua minggu sudah berlalu dari saat Rita meminjam uangnya, Siska sedikit gelisah, banyak biaya yang harus dikeluarkannya untuk mencari tugas setelah seharian di warnet, namun hasil yang diperoleh tak kunjung terlihat, ia harus ke warnet lagi besok, dari pagi hingga siang dan itu memakan biaya yang sangat banyak.

Sis, aku mau ngembaliin uang yang kupinjam bulan lalu, kamu di mana?

Sebuah pesan singkat terlihat di layar Nokia siang ini telah menyelamatkan Siska, segera saja dibalasnya tanpa menunggu lama.

Di warnet Global, ke sini saja, kutunggu.

Dilihatnya sebuah kepala bundar nongol dari pintu masuk warnet, Siska mengangkat tangan kanannya memberi tanda kalau ia sedang duduk dipojok ruangan.

”Cari tugas?” tanya Ayu, teman satu kampus yang meminjam uangnya sebulan yang lalu, Ayu terlihat lebih segar, meskipun masih kurus namun ia tidak pucat lagi seperti biasanya.

”Yup. Seperti biasa. Kamu terlihat segar, Yu.”

”Iya, setelah berobat perasaanku agak mendingan. Nih.” katanya seraya menyodorkan uang seratus ribu pada Siska. ”makasih, ya Sis. Aku berhutang banyak sama kamu, meskipun bayarnya angsuran, tapi ngak apa kan sis?”

”Biasa aja lagi..” kalimat yang biasa digunakan Siska untuk membuat tema-temannya tidak kaku saat berkomunikasi dengannya.
***

”Ma, kirim duit lagi ya, banyak tugas ni. Yang kemarin sudah habis.”
”Lha, bukannya uang yang mama kirim kamarin sudah berlebih? Kamu selalu meminta tambahan setiap bulannya, lihat abang Bobi, dia tidak pernah meminta uang tambahan saat kuliah.”

”Bang bobi kan laki-laki ,Ma. Dia bekerja sambilan sampai larut malam. Mama mau Siska juga kerja sampai larut malam di kampus?”

”Iya, mama tahu. Tapi ini baru tanggal dua puluh, Mama kirim kamu sejuta setiap bulannya, kalau dihitung-hitung dengan uang tambahan yang kamu minta jadinya SATU JUTA LIMA RATUS RIBU HANYA UNTUK KAMU SAJA SETIAP BULANNYA SISKA.” mama menegaskan lagi ucapannya, sebenarnya setiap siska meminta uang tambahan, kalimat andalan mama hanya itu ke itu, siska selalu punya alasan bagus untuk meminta uang. Ia tidak pernah memberi tahukan kemana uang bulanannya itu pergi.

Dipinjam. Hanya satu kejadian yang membuat Siska kekurangan uang. Namun ia tidak pernah mengatakan hal itu pada mama.

”Warnet di kampus mahal, ma. Siska harus mengerjakan tugas sampai berjam-jam.”

”Ya sudah, Mama kirim ke ATM kamu nanti siang. Tapi ingat. HEMAT.” Mama menutup pembicaraan setelah sepuluh menit bicara sendiri panjang lebar, siska sudah biasa dengan hal itu, hampir setiap bulan dialaminya.
Sebenarnya uang siska cukup banyak kalau saja teman-temannya mengembalikan uang yang mereka pinjam dengan tepat waktu. Mulai dari lima puluh ribu, seratus, dua ratus, bahkan lima ratus ribu pun dipinjam oleh teman-teman Siska. Namun biasanya Siska harus mneunggu beberapa bulan untuk menerima uang itu kembali, ia pun tidak pernah menagih uang yang dipinjam itu. Ia sendiri tahu, temannya lebih membutuhkannya. Apa boleh buat, Siska harus meminta tambahan pada mama setiap bulannya.

Siska bukanlah orang kaya, mama tinggal di rumah sewaan di desa. Kedua kakak dan abangnya sudah bekerja, namun bukan Siska saja yang harus dibiayai, masih ada tiga orang adiknya yang sedang kuliah juga. Itulah yang membuat mama pusing setiap kali Siska meminta uang tambahan, karena mama tidak bisa memberi tambahan pada ketiga adiknya. Setidaknya uang yang dikirim oleh kakak dan abangnya akan dipergunakan mama juga untuk membeli rumah pribadi hingga tidak perlu menyewa lagi.

”Ma, duit kemarin sudah habis.” siska memulai pembicaraan.

”Mau tambahan lagi?”

”Iya, ma. Lima puluh Ribu saja.” Siska berbohong, ia membutuhkan dua ratus lima puluh ribu untuk mendaftar ujian akhir. Namun ia berniat akan meminjam pada temannya untuk menutupi kekurangan itu.

”Besok mama kirimkan. Tapi ingat, diHEMAT.” mama menegaskan ucapannya lagi.

”Makasih Ma, Siska sayang Mama.”
***
”Kak, kirim dit dong,” Siska pernah mencoba membujuk kakaknya yang sudah bekerja untuk memberikan uang tambahan, padahal baru berselang lima belas hari uang bulanannya dikirim mama. Namun uang itu langsung saja dipinjam oleh Ratih yang orang tuanya tak mampu mengirim uang bulanan.

Baru beberapa menit ia mengatakan hal itu pada kakaknya, tiba-tiba telpon mama memanggilnya, kakak pasti melapor dengan mama, pikir Siska. Ternyata benar saja, ”Mama dengar kamu minta uang dengan kakak ya? Kan sudah mama…bla…bla…bla” ya deh, besok kalau minta uang langsung ke mama aja ya…klik. telpon ditutup.
***
2 Januari 1999, Siska baru saja menyelesaikan ujian skripsinya, hatinya begitu gembira. Ingin ia melompat, memeluk dan berteriak kepada siapapun kalau ia sudah tamat kuliah. Ia tidak sabar ingin memberi tahu mama kalau mama tidak perlu khawatir lagi dengan uang tambahan yang selalu dikirim di tanggal dua puluhan, Siska tidak akan memintanya lagi. Ia berjaji.

Dilajukannya motor pinjaman mencari kounter penjualan pulsa, ia akan menelpon mama. Entah mengapa siska mengarahkan Jupiter ke luar kampus, ditambahnya kecepatan karena saking gembiranya. Memasuki arena jalan di luar kampus, diliriknya kiri dan kanan jalan kalau ada toko yang buka. Ada banyak pilihan di luar sini. Dilihatnya satu kounter yang buka, segera saja Siska membelokkan motornya setelah memberikan tanda dengan lampu sen.

Namun sebuah motor menyenggolnya dengan kecepatan tinggi dari belakang. Siska terjatuh, kecelakaan tidak dapat dihindari. Siska sempat berguling beberapa kali. Sampai sebuah truk menghantam kepalanya.

”Allahu Akbar.”

Tidak ada yang mendengar bisikan reflek dari lidahnya kecuali kedua telinganya sesaat sebelum truk itu melindasnya dengan kecepatan tinggi.
***
Rumah duka itu masih ramai oleh kerabat dan teman-teman Siska. Terlihat mama yang masih diam, entah apa yang dipikirkannya. Tatapannya kosong.

”Bu, kak, bang, kami akan kembali ke kota. Kami mohon maaf sebesar-besarnya apabila kami memiliki kesalahan. Yang disengaja atau tidak. Untuk Siska, insya Allah tidak ada lagi yang perlu kami maafkan. Doa kami, semoga Amal ibadahnya diterima disisi Allah.”

”Kami sebagai keluarga juga mohon maaf dengan adik-adik semuanya, segala sesuatu yang berhubungan dengan Siska, kalau ada masalah, silahkan dikatakan saja, jangan ragu. Mudah-mudahan menjadi kemudahan bagi nya nanti.”

”Oh iya, ini kak, bu, bang. Saya pernah meminjam uang siska. Jadi karena siska sudah tidak ada, saya kembalikan dengan ahli warisnya.” Ayu angkat bicara dan menyerahkan amplop pada abang Siska.

”Saya juga.” kata Rita seraya menyerahkan amplop pada Bang Bobi.

”Ini, saya juga” Sandra mengeluarkan amplop

Dari teman-teman Siska yang datang, sekitar dua puluh orang memberikan amplop yang berisi uang pinjaman. Spontan saja keluarga siska terkejut dibuatnya. Bahkan ada yang memberikan titipan dari teman yang meminjam, namun tidak bisa hadir ke pemakaman.

”Baiklah, mungkin ini ada bantuan dari teman-teman Siska di kampus, sebagai uluran tangan, mudah-mudahan bisa membentu keluarga yang ditinggalkan nantinya.” Pak Priyo menutup kinjungan kali ini. Entah apa yang mereka rasakan. Aneh memang, saat tiba-tiba teman-teman Siska serentak mengembalikan uang yang pernah dipinjamkan Siska, sementara pihak keluarga Siska terkejut karena ternyata Siska meminta uang tambahannya agar duit bulanannya tertutupi. Ini memang diluar dugaan semuanya.
***
Sepuluh menit setelah teman-teman Siska kembali ke kota, Kakak Siska mulai membuka amplop yang diberikan teman-temannya, setelah semua uangnya dikeluarkan, dilihatnya uang itu rata-rata adalah lembaran lima puluh ribuan, banyak sekali. Mama sempat menangis lagi karena tidak percaya.

Sepuluh juta. Inikah uang yang dipinjamkan siska pada teman-temannya selama empat tahun ia kuliah? Uang yang tidak sedikit, bahkan dengan uang itu, kerusakan motor yang dipinjam Siska saat kecelakaan bisa di atasi, dengan sisanya ditambah uang yang diberikan oleh teman-teman kakak, abang dan adik-adik Siska, mereka bisa membeli rumah sederhana didesa, dengan harga murah.

Mama menangis lagi, entah apa yang dipikirkannya. ”Siska”. Bisiknya lirih. Air mata terus bergulir tanpa bisa ditahan lagi. ”Sis…”

Pekanbaru, 28 Desember 2008
”Maaf ya, Ma, aku tak mampu menolak saat orang-orang meminta tolong padaku. Aku tak mampu menolong mereka jika nanti mereka sudah mampu menolong diri mereka sendiri. Jadi, kutolong mereka sekarang…”

5 Komentar »

  1. hebat terus berkarya…………….

    Komentar oleh mohamad romdoni — 4 Juni 2009 @ 17:03 | Balas

    • Ini karya terakhir penulis sebelum menghembuskan nafas terakhirnya 5 April 2009 lalu.

      Komentar oleh Joni Lis Efendi — 6 Juni 2009 @ 03:33 | Balas

  2. Subhanallah! Salah satu karya yang membuat manik-manik air di mataku. Selamat jalan.

    Komentar oleh iwanka — 28 Juni 2009 @ 06:51 | Balas

  3. the truth story about herself…her sacrafice to her many friends… about..the way her love the other just one reason…she said just coz Her RObb…just coz ALLAH…
    sampai detik ini jejak-jejak kasih sayang mu memmbekas dalam dihatiku …my lovely intan,,,,

    Komentar oleh wietta — 14 Juli 2009 @ 10:15 | Balas

  4. cerpen’a bagus dhe . . .
    saya hampir nangis krna terharu

    Komentar oleh sisca — 8 November 2009 @ 03:14 | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: