Dahsyatkan Dirimu dengan Menulis

22 April 2009

Saatnya Pemuda Tampil Jadi Pemimpin

Filed under: Opini — Joni Lis Efendi @ 08:08

oleh: Joni Lis Efendi

Ketua Kajian Lingkar Perubahan

Saatnya Pemuda Tampil Jadi Pemimpin Momentum 100 tahun kebangkitan nasional memberikan ruang pandang bagi kita melihat seperti apa wajah Indonesia masa depan. Kebangkitan nasional seabad silam diyakini sebagai titik tempuh perjalanan sejarah dalam memperjuangan Indonesia Raya, yang berdaulat atas tanah airnya sendiri.

Kolonialisme yang kian diperparah dengan sistem tanam paksa telah merundungkan malapetaka kemanusian di tanah Hindia Belanda. Dalam pidato tahunan kerajaan, September 1901, Ratu Wilhelmina menyinggung tentang “Kewajiban luhur dan tanggungjawab moral bagi rakyat di Hindia Belanda”. Manuver politik kolonial Belanda itu termaktub dalam kebijakan “Politik Balas Budi”, yang memberikan kesempatan kepada rakyat Hindia Belanda untuk mengenyam pendidikan.

Diyakini sepenuhnya, pendidikan adalah investasi masa depan yang akan mampu mendongkrak harkat dan martabat kaum bumiputera. Dikemudian hari, Kolonialisme Belanda harus membayar mahal konsekuensi dari kebijakan yang mereka ambil itu. Hanya masyarakat yang tercerdaskan dan tercerahkan oleh ilmu pengetahuan yang akan mampu menata kehidupan masa depannya yang lebih baik. Pada sisi pandangan kaum kolonial, memberikan kesempatan pendidikan kepada rakyat jajahan hanyalah sebentuk sagu hati. Ditambah lagi adanya serangan bertubi dari Partai Sosial Demokrat Belanda, yang mendesak pemerintahan kolonial untuk memperbaiki kondisi kehidupan rakyat jajahan. Dalam waktu yang singkat, kesempatan emas itu bagai memantik geretan di tumpukan jerami bagi pergerakan rakyat jajahan dalam menuntut kemerdekaan. Kesadaran nasionalisme itu muncul dari sekelompok kaum muda bumiputera. Atas dasar prakarsa dr. Sutomo dan rekan-rekannya yang menimba ilmu di Stovia, yang juga atas inisator Dr. Wahidin Sudirohusodo, lahirlah organisasi Budi Utomo, yang merupakan cikal-bakal lahirnya gerakan kebangkitan nasional. Setelah berdirinya Budi Otomo, 20 Mai 1908, lahirlah organisasi politik dan ormas lainnya, yang kesemuanya bertujuan merintis jalan bagi Indonesia merdeka. Semangat kaum muda zaman awal-awal kebangkitan nasional dan kemerdekaan seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda sekarang untuk memberikan sumbangsih terbaiknya bagi bangsa dan negara.

Beri Kesempatan

Anggapan kalau orang muda itu belum matang dan kurang siap bertarung dalam semua aspek kehidupan mestinya ditinjau ulang.

Pasalnya, sudah banyak contoh kemumpunian orang-orang muda dalam mengambil alih lahan yang selama ini dikapling hanya jatah golongan tua atau mereka yang sudah berpengalaman lama. Sebuah torehan manis berhasil disematkan oleh seorang mahasiswa tingkat pertama Universitas Oklahoma, Amerika Serikat, yang berhasil memenangkan pemilihan Walikota Muskogee, Oklahoma. Tidak tanggung-tanggung, John Tyler Hammons begitu nama lengkap pemuda yang baru genap berusia 20 tahun pada 4 September mendatang, menang telak 70 persen suara atas lawannya Hershel Ray McBride, yang merupakan mantan Walikota Muskogee.

Keberhasilan itu merupakan buah dari kesungguhan Hammons untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi kota kelahirannya. Dia telah merancang peta politik untuk menduduki kursi nomor satu di Muskogee sejak tamat SMA. Bahkan sudah aktif terlibat kegiatan sosial ketika masih di bangku SMP. Begitu juga catatan gemilang yang ditorehkan Barack Obama dalam sejarah perpolitikan di Amerika Serikat. Pemuda berkulit gelap yang berayahkan orang Kenya itu, pada pemelihan primary terakhir calon presiden dari Partai Demokrat mampu mengungguli politikus senior, yang juga mantan ibu negara, Hillary Clinton. Besar kemungkinan Obama akan mewakili Partai Demokrat maju sebagai calon presiden Amerika Serikat pada konsensus Agustus mendatang. Berarti, Obama adalah calon presiden pertama dari keturunan Afro-Amerika. Dia berambisi untuk membawa angin perubahan dalam sistem perpolitikan di negara adidaya itu. Bahkan, banyak pengamat politik dunia yang mengatakan Obama adalah sebuah fenomena yang menawarkan harapan baru. Seorang pemuda yang penuh dengan ide-ide briliyan untuk sebuah perubahan, dan dunia akan terus memelototinya.

Saatnya Jadi Pemimpin

Keikutsertaan orang muda dalam percaturan politik nasional mulai meniupkan harapan baru. Bisa dikatakan ini adalah awal kebangkitan kedua bagi kaum muda di tanah air. Di beberapa daerah, orang-orang muda berani tampil untuk beradu kesempatan dengan senior-senior mereka dalam memperebutkan kepercayaan rakyat. Mulai dari pemilihan kepala desa, bupati/walikota sampai gubernur, tak asing lagi terpampang foto wajah anak-anak muda yang penuh ide untuk membawa perubahan bagi masyarakatnya. Baru-baru ini pada pemilihan kepala daerah Jawa Barat, golongan muda tampil sebagai pemenang. Mereka mampu unggul atas kontestan lain. Padahal saingan mereka itu lebih senior dan berpengalaman.

Tak menutup kemungkinan pada pilkada daerah lain akan tampil figur-figur pemuda yang bervisi ke depan dan berpengetahuan luas. Bangsa ini butuh pemuda-pemuda tangguh yang mampu menjalankan amanat rakyat dalam membidani urusan negara. Mengingat belakangan ini kian maraknya mengapung kasus “busuk” politikus senior yang kian menganjlokkan tingkat kepecayaan masyarakat. Mungkin pada sisi inilah, figur orang muda yang masih terbilang bersih dan peduli pada keprihatinan masyarakatnya akan jadi pilihan alternatif. Kecenderungan itu tanpak jelas dari grafik hasil pilkada yang sudah-sudah, di mana rata-rata dari golongan muda yang naik.

Seharusnya momentum ini dapat dibaca dengan baik oleh pemuda yang memang berazam untuk mengabdikan dirinya bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negaranya. Pendiri bangsa ini sebenarnya bisa menjadi tauladan bagi para calon pemimpin muda itu. Bacalah biografi Soekarno yang ketika berusia 25 tahun sudah mendirikan Algemene Studie Club sebagai rintisan lahirnya Partai Nasional Indonesia (PNI). Begitu juga keterlibatan aktif Mohammad Hatta dalam diskusi-diskusi politik ketika umurnya masih 15 tahun, yang kemudian mendirikan organisasi pergerakan kepemudaan. Catatan sejarah lainnya juga diperlihatkan oleh Sultan Sjahrir yang mampu mempelopori lahirnya Jong Indonesia yang merupakan perhimpunan pemuda Indonesia. Jong Indonesia ini pula yang memotori pertemuan pemuda se-Nusantara pada tahun 1928, yang kemudian lebih dikenal dengan Sumpah Pemuda. Kepioniran tokoh-tokoh peletak dasar negara kesatuan Republik Indonesia ini semestinya dilanjutkan oleh generasi sesudahnya, termasuk kita sekarang ini. Tentunnya kita masih ingat dengan kata-kata Bung Karno, “Berikan saya 10 orang pemuda, maka saya akan rubah dunia!”. Bagaimanapun, pemuda memiliki cadangan energi yang lebih banyak, gesit, luwes, fleksibel, pantang menyerah, jujur, idealis dan tulus dalam menjalankan amanat rakyat. Dalam perjalanan bangsa ini, hampir semua momentum sejarahnya melibatkan tangan-tangan kaum muda. Mulai dari rintisan jalan menuju kemerdekaan, mempertahankannya sampai periode pembanganunan semuanya tak terlepas dari sumbangsih pemuda. Sebuah kesalahan sejarah bila bangsa ini menafikan keterlibatan pemuda dalam mengurusi negara. Paham senioritas sisa-sisa paham feodalis masih dominan dalam tubuh pemerintahan di negara ini. Sehingga hanya selubang jarum kesempatan pemuda naik pada posisi puncak. Dengan dibukanya kran otonomi daerah dan pemilihan kepala daerah secara langsung, diharapkan keterlibangan politik pemuda lebih baik lagi. Keterlibatan pemuda dalam ranah politik semestinya disikapi dengan arif. Kehadiran mereka setidaknya memberikan suasana segar. Masyarakat pun mendapat ruang yang lebih lebar dalam menyalurkan aspirasinya. Pilihan itu kini berada di pundak pemuda itu sendiri. Apakah mereka benar-benar siap menjalankan amanah sebagai pemimpin atau masih gamang di balik bayang-bayang senioritas.

Seabad kebangkitan nasional ini harusnya menjadi penyambung mata rantai sumbangsih pemuda dalam memberikan karya terbaiknya bagi bangsa dan negara. Sudah saatnya kaum muda tampil sebagai pemimpin. Tentunya bagi mereka yang benar-benar mampu dan siap lahir batin memikul beban amanat rakyat. Selamat berkarya dan berjuang kaum muda.

dikutip dari: http://www.riaumandiri.net/indexben.php?id=24193;

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: