Dahsyatkan Dirimu dengan Menulis

16 Juni 2009

Buang Rahim

Filed under: Cerpen — Joni Lis Efendi @ 07:13

hamil

Kamu tahu gak siapa aku? Entahlah, aku juga tidak tahu siapa diriku. Aku heran kenapa aku masih bisa berjalan di muka bumi yang penuh cinta ini, binatang saja seperti kucing, anjing, beruang bahkan singa sekalipun sayang pada anaknya, tapi kenapa aku tiada merasakan itu, ke manakah rasa cinta yang ada dalam hatiku. Ahhh…… cinta sepertinya tidak mau singgah kepadaku, tak ada kudapati rasa cinta di dalam ruang sempit itu.

Entahlah sepertinya cinta melarikan diri dariku, malah sekarang aku hanyut dalam kekosongan, cinta membenciku, menaruh dendam padaku, cinta tak dapat kuraih lagi, cinta telah melupakanku, memasukkanku ke ruang hampa tanpa cahaya, entahlah apakah aku membutuhkan cinta esok hari setelah beberapa lama cinta mengabaikanku.

Aku berselimutkan darah hingga ke pinggang. Pekikku tak tertahankan melihat bagian dalam tubuhku terburai hingga memutuskan tali ketakutan yang selama ini kusimpan. Kenapa aku tak merasakan kebahagiaan seperti ibu-ibu lain? Rasa kepedihan yang telah mereka lalui terhapus dengan wajah mungil yang sedang berselimut dalam selembar kain panjang di samping mereka. Kenapa aku tak merasakan itu, malah rasa benci bersemayam dalam hatiku? Aku benci dengan tagisan bayi, apalagi bayi yang tidak kuharapkan.

Aku masih merasakan perih dalam kelumpuhan, perih yang sangat mendalam. Aku masih terpikir apakah aku layak mendapatkan penderitaan ini. Pantaskah aku berkorban sebesar ini hanya demi seorang lelaki yang tak patut dikenang. Perih masih menusuk-nusuk perutku, dokter dan perawat berdatangan, mereka hanya sibuk memberiku obat namun tak menghentikan sakitku.

Aku ingin secepatnya keluar dari penderitaan ini. Berlari, belanja ke mall, ke salon, naik mobil, dan memanjakan tubuh dalam kelembutan spa. Bukannya takdir seperti ini, menjadi seseorang Ibu yang tak berarti. Ini semua gara-gara Toni lelaki sialan yang telah membawaku ke jurang kehancuran. Karena rayuannya aku terjerumus ke lembah nista, aku terusir dari keluarga yang selama ini memanjakanku, memberikan semua apa yang kumau. Namun kini aku berkubang dalam kemelaratan. Toni meninggalkanku setelah semuanya terjadi. Aku mengandung, namun Toni tidak mau bertanggung jawab.

“Maaf dinda, aku harus pergi, orang tuaku ingin aku melanjutkan kuliahku ke Jerman. Mungkin setelah itu kita akan bersama.”
“Tapi…Ton, kandunganku?”
“Ya, aku tahu. Tapi bagaimana lagi, bukannya aku tidak mau bertanggung jawab, aku hanya ingin berkonsentrasi dengan kuliahku. Tunggulah hanya beberapa tahun.”

“Aku tak mungkin menunggumu selama itu, bayi ini akan lahir secepatnya. Bagaimana aku menjelaskan hal ini kepada keluargaku?”
“Itu hanya soal waktu, lama kelamaan mereka juga akan mengerti.”
“Dasar kau, lelaki tak bertanggung jawab!”
“Eh….!! Aku bukan tidak bertanggung jawab. Aku sayang kamu dan juga anak kita. Tapi aku butuh waktu untuk menerima kenyataan ini.”
“Itu sama saja dengan kau lari dari tanggung jawab!”
“Sudahlah, jika kau mau menungguku, tunggulah. Namun, aku berharap jangan kau ganggu aku, aku ingin fokus pada pendidikanku. Aku harap jangan menghubungiku. Aku ingin hidup tenang.”

Kini aku harus menanggung nasib malang ini sendirian, Toni seenaknya di luar negeri sedang aku menjalani hidup penuh penderitaan. Jika mengingat Toni, kebencian semakin dalam tumbuh di hatiku, kebencian pada Toni dan juga anaknya. Aku tak mau menyayanginya, apalagi memberinya nama.

***

Sore ini aku akan mengantarkan bayiku ke panti asuhan, meninggalkannya di depan pintu, seperti yang sering kulihat di televisi. Hanya ini cara yang ampuh untuk melupakan Toni. Aku tidak akan merasakan sesal sedikitpun, sebab aku memang menginginkan bayi ini hilang dari kehidupanku.
Rencanaku berjalan dengan lancar, sore itu aku sudah berada di depan panti namun orang-orang masih ramai, aku menunggu hingga larut. Kutinggalkan bayiku dalam balutan kain panjang yang sudah seminggu tidak kucuci.

***

Sebulan sudah berlalu, entah kenapa ada rasa rindu yang mendalam terpendam dalam hatiku. Tiap malam, bayangan anakku selalu datang menghantuiku.

“Engkau bukan manusia wahai, Ibu! Sebaiknya kau buang saja rahimmu, biar tidak ada lagi bayi yang menderita seperti diriku ini.”

Suara itu terngiang-ngiang menghantui hari-hariku. Ada perasaan bersalah, kenapa aku sekejam itu kepada anakku. Kenapa aku tega, padahal dia tidak bersalah. Dia hanya korban dari buah cinta kami yang sesat. Mengapa aku berbuat seperti itu, bayi mungil yang tidak berdosa, bayi suciku.
Hari itu, aku tak tahu, dorongan apa yang telah mengantarkanku ke depan pintu panti. Aku memberanikan diri menemui kepala panti dan menanyakan kabar anakku. Namun, Ibu itu tidak bisa melacak keberadaan anak yang ditinggalkan tanpa mengetahui ciri-cirinya sedikit pun.

“Dia itu anakku, Bu! Tolonglah aku! Aku yang meninggalkannya sebulan yang lalu di depan panti ini….”

“Kami tidak percaya dengan apa yang kau katakan.”
“Benar Bu, akulah ibu bayi itu, aku ingin menyayanginya lagi.”
“Kami tidak bisa memberikan bayi sembarangan kepada orang yang mengaku sebagai Ibunya. Mana ada Ibu yang membuang anaknya di dunia ini, kecuali Ibu gila!”
“Benar, Bu, anak itu anakku!”

“Maaf ya, Bu, kami tidak bisa melayani ibu. Sebaiknya ibu pergi dari tempat ini. Sudah banyak ibu-ibu muda melakukan hal yang sama seperti yang ibu lakukan sekarang. Belakangan, kami sudah tahu kalau itu hanya sebagai alasan, karena kami tahu modus mereka, yaitu sindikat perdagangan anak!”.

“Aku tidak seperti itu, Bu….”
“Pergilah, sebelum kami panggil polisi!”
Aku tak tahu harus bagaimana menjelaskan hal ini kepada mereka, bahwa memang akulah Ibu yang telah tega membuang anak kandungnya sendiri. Tapi mereka tidak percaya….

***

Aku merasa cinta tak akan datang lagi padaku, walaupun aku ingin cinta itu bersemi di dalam hatiku. Cinta terlanjur membenciku. Membenciku untuk selamanya.

Mereka tertawa ke arahku. Aku tak tahu kenapa. Padahal perkataanku benar, bahwa akulah Ibu yang pernah membuang anaknya. Aku masih menunggu sampai ada orang yang percaya padaku, kalau aku ini pernah menjadi seorang Ibu. Namun mereka menjawab dengan lemparan batu ke arahku.
“Awas wanita gila!”

***

Cahaya Buah Hati

anggota Sekolah Menulis “Paragraf” dan FLP cabang Pekanbaru.

Cerpen ini pernah dimuat di Expresi Riau Pos, 10 Mei 2009

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: